Patahan Sumatra sendiri bergerak 1 - 2 cm/tahun, walaupun lebih kecil tapi efek kerusakannya lebih besar karena dekat dengan pemukiman, seperti gempa Tarutung 2022 M 6.2 dan Pidie Jaya di 2017 dengan M 6.7.
Kepala BBMKG Wilayah I, Hendro Nugroho menjabarkan, aktivitas gempa bumi secara statistik yaitu gempa dengan magnitudo (M) 1-2 berjumlah 327 kejadian, M 2-3 jumlah 1170 kejadian.
Baca Juga:
Junta Militer Myanmar Umumkan Gencatan Senjata Sementara Pascagempa Mematikan
M 3-4 jumlah 404 kejadian, M 4-5 jumlah 83 kejaidan, M 5-6 jumlah 12 kejadian dan M > 6 sebanyak 2 kejadian.
Selain itu, total gempa kedalaman dibawah 50 km sebanyak 1665 kejadian, 50 - 100 km sebanyak 150 kejadian, 100 - 250 km sebanyak 184 kejadian dan > 250 km sebanyak 1 kejadian.
"Dari sebaran gempa bumi dapat kita lihat beberapa klaster yang signifikan seperti di Lhoksumawe yang terjadi di awal Januari, di Singkil dengan M 6.2 , di sebelah tenggara Nias," sebut Hendro.
Baca Juga:
Indonesia Siap Mitigasi Dampak Negatif Tarif Impor AS Terhadap Produk Buatan Indonesia
Hendro menambahkan bahwa klaster gempa tersebut patut diwaspadai dan dipelajari lebih lanjut.
Secara tektonik, wilayah Aceh Tengah paling tinggi seismisitas yang dipengaruhi oleh aktivitas sesar geser Aceh Tengah dan Tripa yang sangat aktif.
Sedangkan di Sumatra Utara, wilayah Tarutung paling banyak terjadi gempa bumi yang diperngaruhi oleh aktivitas dari sesar Toru.