"Kami memiliki rencana besar untuk membuat suatu buku tentang sejarah gempa merusak di wilayah Sumatra Utara dengan analisis yang lengkap sebagai bagian dari pengabdian kami," ujar Hendro.
Koordinator geofisika BBMKG Wilayah I, Lewi Ristiyono, menambahkan bahwa historis gempa merusak di wilayah PGR I paling fenomenal karena telah membangkitkan gempa Aceh-Andaman pada tahun 2004 dengan M 9.0 dan juga Nias pada tahun 2005 dengan M 8.5.
Baca Juga:
Junta Militer Myanmar Umumkan Gencatan Senjata Sementara Pascagempa Mematikan
Keduanya sangat merusak karena diikuti oleh tsunami lebih dari 10 meter dan mengakibatkan ratusan ribu korban jiwa.
"26 Desember menjadi momentum bagi kita untuk menyadari bahwa kita hidup di wilayah yang sangat rawan gempa bumi dan oleh karena itu perlu kesadaran dan kerjasama untuk meminimalisir kerusakan yang akan datang," sebut Lewi.
Ditambaahkan, tidak hanya tsunami, gempa di darat juga harus diwaspadai seperti gempa terakhir di Tarutung pada 2022 yang membuat beberapa bangunan tinggi hancur.
Baca Juga:
Indonesia Siap Mitigasi Dampak Negatif Tarif Impor AS Terhadap Produk Buatan Indonesia
Selain itu, gempa Pidie Jaya 2017 dan Bener Meriah 2013 yang mengakibatkan longsor cukup luas dan tidak adanya persiapan serta langkah mitigasi mengakibatkan kerugian mencapai triliunan rupiah.
Hendro Nugroho kemudian menutup dengan slogan "adaptif", dimana kita harus beradaptasi dengan kejadian alam ditempat tinggal kita dan tahu cara menyelamatkan diri dengan langkah mitigasi yang tepat, maka gempa bukan lagi ancaman tetapi sebagai bagian dari kehidupan.
Masyarakat juga dihimbau untuk tetap mengikuti informasi resmi dari BMKG melalui aplikasi infoBMKG dan laman resmi yaitu @infobmkgsumut.